Sabtu, 27 Juni 2015

Kisah Nabi Muhamad SAW Menjelang Ajal


Betapa mulia dan indahnya akhlak baginda Ya Rasulullah SAW Mengingatkan kita sewaktu sakratul maut. 'Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku". Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam- dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik- detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam ," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?". "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. " Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril? " Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii!" - "Umatku, umatku, umatku" Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allaahumma sholli 'alaa Muhammad wa'alaihi wasahbihi wasallim. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Usah gelisah apabila dibenci manusia kerana masih banyak yang menyayangimu di dunia, tapi gelisahlah apabila dibenci Allah kerana tiada lagi yang mengasihmu di akhirat kelak.

Sekedar Argumentasi Usang


Sampai Kapan.? Tak ada cara tuk bilang cinta, bila jatuh untukku kau tak rela. Tak ada lagi ceritaku untukmu, bila semalu itu kau jadi perempuan. Sebenarnya apa maumu, apa yang ingin kau dapatkan dari mencintaiku namun hanya diam? Tahukah kau bahwa mencintai tak berarti memperbudak perasaan, ya Tuan Puteri? Maafkan perkataanku, Ampuni aku yang bertanya - tanya. Aku manusia yang bisa marah, Namun kuakui masih, membencimu aku tak kuasa. Semarah - marahnya aku, bahagiakanmu masih inginku. Di banyak malam aku masih berdoa, supaya aku tidak habis akal untuk tetap kau bisa menemukan bahagia ada'Ku atau tanpa'Ku. Kusadari aku lelaki ya tak harus egois memaksakan perasaan. Barangkali sedang berat aku melewatkan hidup. Kuakui, kubutuh kau. Kubutuh menggenggam tanganmu untuk melindungi, dan kubutuh hadirmu. Cinta itu kuatku berharga diri. Jangan sekali-kali kau Mengajak'ku bertamu sebelum aku menepati janji, meski senyum tipismu kukenal manis adanya. Seharusnya kau tidak mengukur - ukur, hatimu yang kuinginkan itu terlalu indah untuk kau jadikan alat menimbang kekurangan. Kau di sana entah berbuat apa. Sementara ke sini, kutahu kau sama sekali tak mampu. Sampai kapan kita beradu keras seperti ini? Sampai kapan? Sampai kapan kita mengulur-ulur waktu untuk tidak dengan sesederhananya menjadi satu, dan bahagia? Sampai kapan? Oh sampai kapan, sayangku? Sampai kapan kau menungguku jatuh dari langit, Sementara kau tahu di mana kau bisa menjumpaiku? Sampai kapan kita merasa tidak benar-benar berpisah? Sampai kapan kita berhenti melukai? Sampai kapan kau bilang kau mencintaiku, namun tak pernah siap - siapnya kucintai? Sampai kapan duniamu cobai kita? Sampai kapan?

Doa Dan Cinta


Jika engkau nanti menikah dan aku masih menuliskanmu dengan tanganku, kau boleh mematahkannya... Jika aku masih berjalan menghampirimu, kau boleh melumpuhkannya... Jika aku masih suka menatapmu, kau boleh membutakannya... Jika aku masih senang mendengar suaramu, kau boleh menulikannya... Atau,, Jika aku masih saja membicarakanmu, kau boleh membisukannya, Akan tetapi satu harapku jangan kau hilangkan hatiku, Sebab disitu tempat doa ~ doa yang baik pernah bermuasal untukmu... Bahagialah sayang

Berhenti Berharap


Aku tak akan berusaha memahami lagi Semakin faham semakin aku mengerti Cintamu bukan untukku Sebab aku percaya mungkin cinta tak selamanya bersama jodoh Tapi selamanya jodoh pasti bersama cinta