Gundah yang membuncah di tepi hati,
hanyut dalam ambigu,
termenung menatap mendung yang
bergelayut di kaki langit,
sembari menyambut rintik hujan
yang jatuh satu-satu.
Rintik yang menitik mencipta syahdu
di genang kalbu,
ingin rasanya ku hamburkan ribuan
aksara,
untuk mencurahkan segala rasa.
Perjalanan pena dan jemari yang
tiada henti.
diantara racauan aksara yang tak
lagi ada makna.
terukir kata dalam sisa asa.
terlukis satu puisi,
dengan kata kata usang,
sekedar memanja pena.
Malam merambat
bintang meringis berpendar pasi
rembulan duduk menangis di sisi
sepi
sedang langit menggelung kelabu.